Jambore relawan sekolah raya digelar

Jejaring Penggiat Kemanusiaan dan Pendidikan Berbasis Alam dan Budaya gelar Jambore Relawan di Kantor Desa Segarajaya Jln Tarumajaya, Kec. Tarumajaya, Kabupaten Bekasi, Minggu (14/9).

 

http://1.bp.blogspot.com/-PF_c_Rn3pLo/U_58D7DMpyI/AAAAAAAASc0/2ZTPBJl6Xi8/s320/relawansekolahraya.jpg
H. Agustian salah satu Penggagas Kegiatan Kemanusiaan Pendidikan Berbasis Alam dan Budaya mengatakan,  kegiatan ini bertujuan guna mendesain kurikulum sekolah raya, mengidentifikasi keahlian dan mengalokasikan relawan ke masing-masing jejaring.” Ini juga salah satunya ajang silaturokhim, sekolah raya tiga kota, Malang, Bekasi dan Jakarta, serta menyatukan misi kurikulum sekolah raya,” ujarnya.

H. Agustian menjelaskan, dengan menyatukan kurikulum sekolah raya di tiga kota Malang, Bekasi dan Jakarta yang diikuti 100 peserta Jambore relawan seperti Sanggar Belajar Kampung di Kota Batu, Malang, Sanggar Belajar Kasambon Malang, Sanggar Anak Kolong Jakarta, Flamboyan UNJ, UIN (Kalacitra dan Ranitra), SD Alam Anak Soleh Desa Setiasih, Tarumajaya, Padepokan Sima Maung Bekasi dan banyak lagi.merupakan sebagai tahapan” visioning” identifikasi keahlian relawan dan mendesain peta kebutuhan jejaring afiliasi Sekolah Raya.
“Tahun ini baru 3 kota , tapi tahun depan kami akan lakukan pertemuan dari Aceh sampai Papua,” katanya.

H. Agustian juga mengatakan, sekolah identik dengan gedung, sarana belajar dan kelulusan siswa semata. Tapi lain halnya dengan sekolah raya yang menggerakan jejaring afiliasi dari sekolah umum, taman pendidikan, sanggar belajar, taman baca, pondok pesantren maupun padepokan. Yang bersama relawan dengan menerapkan desain kurikulum pendidikan dengan media utama belajar dengan alam dan budaya.” Kami gunakan alam dan budaya sebagai media utama pembelajaran,” ucapnya.

Masih kata H. Agustian, pihaknya menerima anak didik dari keluarga yang kurang mampu, anak yatim piatu yang akan terbangun menjaga kelestarian alam karena sejak awal dilibatkan secara langsung berinteraksi dengan alam.sebagai media observasi, Karena sekolah raya merupakan sekolah yang terbebas dari kungkungan, yang mendorong ke karakter, mengarah ke interaksi dengan alam.(Anen)

Foto-foto kegiatan hasil dokumentasi saya dapat dilihat di: Album Jambore Relawan #SekolahRaya

Sumber: http://www.beritatv.net/2014/09/22/jambore-relawan-sekolah-raya-digelar

Via Arie Haryana – Jambore Relawan #SekolahRaya: Meretas desain pendidikan Indonesia

“Sekolah Raya membuat saya menghapus bayangan bahwa kata ‘sekolah’ identik dengan gedung, sarana belajar & kelulusan siswa semata. Sekolah Raya adalah mekanisme menggerakkan jejaring afiliasi, dari sekolah umum, taman pendidikan, sanggar belajar, taman baca, pondok pesantren maupun padepokan. Bersama-sama relawan didalamnya menerapkan desain kurikulum pendidikan dengan media utama belajar yang tidak lain adalah ALAM dan BUDAYA.”

Begitulah kira-kira kalimat Om Bisot yang sempat juga dituliskan pada artikelnya mengenai Jambore Relawan Sekolah Raya yang pada hari minggu kemarin sukses diselenggarakan.

Jambore Relawan – Saya hanya mengikuti Jambore Relawan hari terakhirnya saja, karena pada hari pertama pelaksanaan Jambore Relawan bentrok dengan Kegiatan Komunitas yang juga tidak bisa ditinggalkan karena saya salah satu yang harus bertanggung jawab di kegiatan tersebut. Tapi walaupun satu hari mengikuti Jambore Relawan yang diadakan di Desa Segara Jaya Bekasi ini, saya cukup paham dan mengerti arah ataupun maksud dari kegiatan ini. – Walaupun ada penyesalan dalam hati ketika melihat pemutaran video di hari pertama yang terlihat seperti gudang ilmu.

Setelah satu hari penuh mengikuti kegiatan Jambore Relawan, saya sadar akan satu hal. Saya tidak sendirian. Begitu banyak orang yang ber-pendidikan, lulusan SMA sampai bergelar Sarjana saling menebar inspirasi, membagi ilmu, menyumbangkan tenaga dan pikiran mereka di satu waktu dan tempat hanya untuk meluruskan dan mencoba bergerak maju terhadap sistem pendidikan di Indonesia yang nyatanya jauh dari kata Baik dan Bermutu.

Pada hari kedua, dimana saya mengikuti Jambore Relawan ini, materi yang saya dapatkan dari Cak Ipoel yaitu mengenai “Review”. Bagaimana otak kita dipaksa untuk membayangkan ataupun mempraktekkan kembali sikap, mental dan pola pikir kita selama ini dalam sebuah kasus. Dan setelah itu, kita diberi arahan dan suatu pandangan bahwasannya apa yang harus kita lakukan sebagai Relawan itu harusnya seperti ini, tentunya untuk membawa dan menuju pada Cita-cita luhur Indonesia, Kesejahteraan. Sungguh luar biasa brainstorming yang saya dapatkan kemarin.

Dan setelah acara Jambore Relawan itu selesai, Para Relawan yang telah mengikuti Jambore Relawan tersebut, diharapkan telah mamahami konsep dari Sekolah Raya ini, bahwasannya belajar dan mengajar tidak harus diruang beratap dan kurikulum dari Pemerintah, Karena Alam dan Budaya akan dengan senang hati bersedia jadi wadah untuk pergerakkan kita. Dan para Relawan harus segera mencari tau apa yang bisa dibagi baik ilmu ataupun pengalamannya untuk mulai mendesain kurikulum Sekolah Raya yang akan diterapkan pada lingkungannya masing-masing.

“Negeri yang harus kita bangun bukanlah Indonesia, kawan. Negeri yang harus kita bangun adalah lingkungan kita sendiri. Dan untuk itu, lo nggk harus nunggu kaya raya bergelimangan harta untuk membangunnya, lo cuma harus memulai dengan Aksi!!”

Semoga tahun depan Jambore Relawan ini diselenggarakan kembali. Support and let me in!
Salam pendidikan – Salam 5 Jari

You also can see this in http://kalengharapan.com/2014/09/jambore-relawan-sekolah-raya-meretas-desain-pendidikan-indonesia/

Via Bisot – Sedikit Catatan Tentang Jambore Relawan #SekolahRaya

Mungkin kita telah lupa di kota mana PON kesekian dilaksanakan dan kapan? kita juga mungkin telah lupa siapa nama menteri bidang A masa Presiden B tahun sekian. Jika Anda mengenal yang namanya Buku RPUL (Rangkuman Pengetahuan Umum Lengkap) mungkin Anda seumuran dengan saya, dan tahu bahwa buku ini dapat menjawab tuntas soal tanggal, tokoh dan banyak hal, lalu apakah kita bisa mengingat semua pelajaran yang telah kita lewati tanpa bantuan buku, mesin pencari internet dlsb? Mungkin saja bisa dengan metode yang lebih meresap dan mengikat ingatan lebih dalam.

Bagaimana seorang anak didik akan diperkenalkan, diajarkan mengenai metamorfosis? Pak Taga Radja Gah, M.Pd menceritakan tentang sebuah proses belajar yang berbeda. Ia bercerita bagaimana seorang guru meminta setiap muridnya secara perorangan atau perkelompok mencari seekor ulat untuk dipelihara, diberi makan daun dan seterusnya hingga menjadi kepompong lalu menjadi kupu-kupu. Proses tersebut tentu tidak mudah, mulai dari beberapa orang tua yang keberatan menemani bahkan mencarikan ulat untuk dipelihara oleh anaknya, ulat yang mati saat dalam proses pengamatan ,dan kendala lain sebagaimana diceritakan Pak Taga Radja Gah, M.Pd Kepala Sekolah SMAN 18 Jakut disela-sela materi yang dibawakannya dalam acara Jambore Relawan #SekolahRaya 13-14 September 2014 di Aula Desa Segarajaya Tarumajaya Kab. Bekasi.

Taga Radja Gah, M.Pd
Sumber foto: http://oxygen-power.blogspot.com/

Metode seperti di atas di kenal sebagai learning experience atau experience based learning yang memerlukan kreatifitas dari pendidik untuk mengembangkannya. Itu hanya salah satu metode belajar yang masih banyak digunakan, namun sayangnya juga sudah mulai ditinggalkan.

Peserta didik dapat belajar melalui metode-metode yang lebih akrab dengan alam dan lingkungannya, pada gilirannya sekolah dan lingkungan sekolah menjadi kesatuan ruang belajar yang bermanfaat bagi semua pihak. Asas timbal balik antara sekolah dan lingkungan menciptakan banyak peluang pengembangan belajar, salah satunya dengan Metode Problem Based Learning (PBL), Metode Experience Learning (MECL), Metode Experiential Learning (METL) dan sebagainya.

setidaknya 2 hari mengikuti Jambore Relawan Sekolah Raya membuat wawasan saya banyak terbuka akan dunia pendidikan, banyak membuka mata saya akan rumitnya ilmu dibalik Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) ini.

Sekolah Raya membuat saya menghapus bayangan bahwa kata “sekolah“ identik dengan gedung, sarana belajar & kelulusan siswa semata. Sekolah Raya adalah mekanisme menggerakkan jejaring afiliasi, dari sekolah umum, taman pendidikan, sanggar belajar, taman baca, pondok pesantren maupun padepokan. Bersama-sama relawan didalamnya menerapkan desain kurikulum pendidikan dengan media utama belajar adalah ALAM dan BUDAYA.

untuk mempertemukan dan mengaitan keberagaman dalam konteks ke-Indonesia-an dimulai dengan mengubah cara pandang bahwa Indonesia sesungguhnya ada di Desa atau kampung. Potensi, sumber daya alam, budaya, kompleksitas permasalahan dan disinilah sistem sosial terkecil ketika antar pribadi dan keluarga menjadi terhubung. Dalam kerangka ruang kota, sebenarnya konsep kota itu sendiri juga niscaya sama jika kita dapat melihatnya sebagai wilayah-wilayah perkampungan besar di Indonesia.

“Desa atau kampung dapat menjadi pijakan yang penting untuk menjadi pilihan utama dalam menguatkan dan melipatgandakan kekuatan perubahan yang diiinginkan. Saya membayangkan setiap kota di Indonesia bisa menjadikan tiap desa/kampung menjadi berdaya dan setara dengan beragam multi minatnya” kata Bang Agustian @ojeksufi sang founder Sekolah Raya.

Acara jambore di perkuat dengan pemateri Dr. Muh. Hatta dari Sekolah Alam “Madinah School” sharing tentang Sekolah Totochan dll, kemudian Heny Budiastuti (Classroom Management), Taga Radja Gah, M.Pd Kepala Sekolah SMAN 18 Jakut membawakan materi Pedagogik dll, secara keseluruhan suksesnya acara tidak terlepas dari team fasilitator yang profesional yaitu Cak Ipul, Uya, Sirod dkk dari Cerah Institute.

Cerah Institute

Peserta datang dari berbagai latar belakang, Komunitas Kalacitra & Ranita dari Mahasiswa/i UIN, KABASA Bekasi, PYD (Pondok Yatim Darrussalam Babelan), Sahabat Kolong / Sanggar Anak Kolong Jakarta, Flamboyan dari UNJ, Gerakan Moral Pelestari Jawara Bekasi (diwakili dari Padepokan Sima Maung Babelan, Pendekar Sumur Tujuh Bekasi dll), Distrik Tiger Cikarang Plus, KLJI Official, Sanggar Belajar Kasembon Malang, Sanggar Belajar Kampung di Kota Batu Malang, SD Alam Anak Sholeh, desa Setiasih Tarumajaya Bekasi, SMP Terbuka Babelan Bekasi,  SMK Industri Nusantara babelan Bekasi dan lainnya.

13-14 September 2014 Aula Kantor Kepala Desa Segarajaya Tarumajaya menjadi saksi lahirnya relawan-relawan pendidikan yang saling bersilaturahmi dan berbagi pengalaman antar jejaring komunitasnya, berbagi dan meningkatkan pengetahuan relawan tentang desain Sekolah Raya yang cocok dan sesuai dengan kebutuhan komunitasnya. Selepas jambore ini, peserta diharapkan mampu mengidentifikasi keahlian masing-masing jejaring kemudian mendesain kurikulum Sekolah Raya untuk diterapkan diwilayahnya masing-masing atau saling mengisi dan bertukar materi pengajaran antar sesama jejaring. Tahun depan, jika jambore yang sama akan dilaksanakan, masing-masing  akan berbagi kembali pengalamannya dan mencoba merumuskan masalah untuk mencari solusinya. Insya Allah. :)

Salam.

 

You also can see this in http://bisotisme.blogspot.com/2014/09/sedikit-catatan-tentang-jambore-relawan.html