Masih Ada Tempat untuk Anak Dhuafa

Syarat utama penerimaan siswa baru hanya satu: dari keluarga miskin. Sekilas, rumah sederhana bercat hijau muda itu seperti hunian biasa. Akan tetapi, jika dilihat dari dekat, rumah yang terletak di Villa Mutiara Gading Blok G1 Nomor 1, Desa Setia Asih, Kecamatan Tarumajaya, Kabupaten Bekasi, itu adalah sebuah tempat pendidikan untuk kaum dhuafa di sekitar wilayah itu. Rumah yang dibangun di atas lahan seluas 150 meter persegi tersebut disulap menjadi sekolah jenjang taman kanak-kanak (TK) dan sekolah dasar (SD).

Di situlah Bela Novita bersama 75 anak lainnya menyemai benih-benih mimpi mereka, merasakan dunia pendidikan. “Saya senang belajar di sini. Banyak teman ibu saya tidak perlu bayar (uang) sekolah,” ujar siswi kelas satu SD itu. Bela tidak sendirian. Perasaan yang sama dialami Dwi Pujianti, teman sekolahnya.  Nurlela, ibu Dwi, tak hanya menyatakan kesenangannya, ia bahkan sampai terharu atas kehadiran sekolah alam gratis di lingkungannya. Mengaku tidak sanggup mendaftarkan anak perempuannya itu untuk sekolah, perempuan 28 tahun ini menganggap keberadaan sekolah gratis bagai oase di tengah padang pasir: memberikan ruang bagi anaknya untuk mendapatkan pendidikan. “Sekolah di sini semuanya digratiskan. Saya berharap, sekolah ini bisa ditiru oleh sekolah lain,” ucap warga Kampung Bogor 2 Tarumajaya yang bekerja sebagai pemulung. Sebagaimana halnya Nurlela, orang tua siswa umumnya bekerja sebagai buruh tani, buruh cuci, dan pemulung.

Mereka tidak dipungut biaya sepeser pun. Bahkan, pengelola lembaga pendidikan ini memberikan seragam sekolah dan alat tulis untuk semua siswa. Anak salehRumah yang ‘disulap’ menjadi lembaga pendidikan itu bernama Sekolah Alam Gratis TK dan SD Anak Saleh yang bernaung di bawah Drupadi Foundation. “Drupadi Foundation mendapat kepercayaan dari masyarakat untuk menyelenggarakan program pendidikan gratis,” tutur Agustian, ketua lembaga pendidikan itu. Di sekolah ini, peserta didik bukan hanya diajarkan pengetahuan umum, tapi juga selalu diberikan kegiatan yang dapat menumbuhkan rasa cinta terhadap lingkungan. Misalnya, menyiram dan merawat tanaman setiap hari sebelum masuk kelas. Satu hari dalam sepekan, siswa dijadwalkan shalat dhuha berjamaah. Dia menegaskan, meskipun lembaga pendidikan yang dimulai pada Juli 2006 itu tidak memungut biaya bagi peserta didik, hal itu tidak mengurangi kualitas pembelajaran.

Program pengembangan diri yang diberikan adalah bahasa Inggris, drum band, sempoa, iqra, dan bimbingan belajar gratis untuk persiapan ujian. Semua itu sejalan dengan visi yang diemban lewat mengaktualisasikan potensi masyarakat marginal. “Tujuannya agar menjadi generasi potensial yang cerdas secara emosional dan luhur dalam pekerti santun dalam berucap.

(Koran Republika, 23 Juni 2010)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>